Minggu, 10 November 2013

JERAT EKONOMI DAN PERDAGANGAN GLOBAL

Battle of ground isu-isu ekonomi perdagangan akan melibatkan tiga sisi kekuatan dan kepentingan yang dalam banyak hal saling bersaing, yakni:
  • Perselisihan pertama terjadi antara negara maju dengan negara sedang berkembang dan kurang berkembang. Misalnya alotnya negosiasi tarif dalam WTO di bidang pertanian (agriculture), merefleksikan betapa kuatnya benturan kepentingan-kepentingan antarpihak sekaligus memberikan sinyal bahwa kepentingan-kepentingan nasional tetap menjadi prioritas dalam ekonomi politik internasional dan global.
  • Perselisihan kedua adalah antara perusahaan-perusahaan multinasional dengan host nations. Di kalangan ilmuwan sosial masih memperdebatkan MNC dan TNC. Paul Hirts dan Grahame Thompson, mengemukakan bahwa pergerakan-pergerakan perusahaan sekarang ini dikuasai oleh MNC dan bukannya TNC. TNC sebagai perusahan yang tidak lagi terikat pada perusahaan induk di negara asalnya, mempunyai mobilitas yang tinggi untuk berpindah dari satu negara ke negara lain. MNC di sisi lain, masih mempertahankan negara induknya dan karenanya perusahaan yang beroperasi di luar negeri dapat dikatakan “cabang”.
  • Perselisihan ketiga, benturan kepentingan juga hadir di antara negara maju, seperti AS berseteru dengan Jepang menyangkut keseimbangan dagang. AS merasa telah membuka pasar kepada Jepang, tetapi perusahaan AS mengalami kesulitan menembus pasa Jepang yang sangat proteksionis.

William K. Tabb mengemukakan bahwa persaingan antarperusahaan dari berbagai negara tengah berlangsung di pasar serta dalam perselisihan antarpemerintah yang mencari keuntungan bagi perusahaan-perusahaan mereka. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya pembayar pajak serta pemilik tenaga kerja terbesar, melainkan juga pemberi dana kampanye politik serta penyedia karier sampingan bagi pejabat serta birokrat terpilih. Latar belakang inilah yang membuat para pemikir kritis melihat perdagangan bebas lebih sebagai usaha negara maju untuk melanggengkan praktik imperialisme dan kolonialisme yang mulai memudar setelah Perang Dunia Kedua.



Faktor Penggerak
Dewasa ini, ekonomi dan perdagangan telah menjadi semakin mengglobal. Setidaknya, itulah isitlah yang sering kita dengar untuk menggambarkan fenomena dunia kontemporer yang ditandai oleh menyempitnya ruang dan waktu, menipisnya batas-batas territorial negara bangsa/state borderless. Suatu negara nasional tidak lagi dapat mengambil kebijakan tanpa mempertimbangkan lingkungan ekonomi global. Inilah akibat langsung munculnya interdependensi dunia, yang mendorong timbulnya perdebatan, yakni interdependensi timbalebalik yang setara di antara kelompok-kelompok negara dan kesalingtergantungan ekonomi yang mendorong proses globalisasi.

Pada yang pertama, hubungan-hubungan asimetris akan memengaruhi hubungan-hubungan kekuasaan dan distribusi sumber-sumber ekonomi. Jika hubungan ini terjadi, maka bukan interdependensi yang muncul, melainkan suatu hubungan bergantung (dependent). Fair trade yang seharusnya menjadi salah satu prinsip perdagangan bebas agar memberikan kemakmuran bagi penduduk dunia hanya dinikmati oleh sedikit aktor khusunya hanya oleh negara maju yang mendapatkan keuntungan besar.

Perdagangan Bebas dan Perdamaian
Menurut Martin Wolf, perdagangan bebas merupakan cara paling baik dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran rakyat. Dasar bagi dilaksanakannya perdagangan bebas adalah teori keuntungan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo. Teori keuntungan komparatif menyarankan agar suatu negara mengkhususkan diri untuk memproduksi barang-barang yang mempunyai ongkos paling rendah dibandingkan dengan negara lain berdasarkan keuntungan komparatif yang diperolehnya.

Menurut teori perdagangan, impor adalah baik. Negara-negara dunia ketiga harus meliberalisasi perdagangan dan bahkan harus membuat tarifnya 0% untuk semua produk sebab dengan demikian mereka akan membuka masyarakat yang miskin untuk mendapatkan produk-produk luar negeri yang jauh lebih murah. Kedua, liberalisasi investasi dengan memperlakukan perusahaan asing sama dengan perusahaan domestik akan membuka peluang investasi yang lebih besar. Ketiga, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, pajak, dan sebagainya. Keempat, liberalisasi di negara-negara industri maju akan membuka akses pasar Negara Dunia Ketiga dan akan meningkatkan pemasukan mereka melalui ekspor.

Kritik pada Perdagangan Bebas
Dari sepak terjangnya selama ini, WTO menjadi rezim perdagangan bebas yang tidak demokratis dan cenderung menjadi alat negara maju untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi dan perdagangan mereka.

Perdagangan bebas yang menyandarkan pada teori keuntungan komparatif, ataupun neoliberalisme mempunyai cacat bawaan. Ini karena asumsi-asumsi dasar yang dibangun oleh kerangka teoritik  atau ada yang menyebutnya kerangka ideologis gagal dipenuhi. Pertama, jika memang suatu negara harus mengkhususkan diri pada produk yang mempunyai faktor endowements paling bagus mengapa sekarang ini negara-negara di dunia tidak melakukan hal tersebut? Anggapan bahwa perdagangan bebas akan mendorong perdamaian juga ahistoris dan akan terjebak ke dalam mitos. Jika perdagangan memang menciptakan perdamaian, maka bagaimana para pendukung perdagangan bebas ini menjelaskan masa kolonialisme dan imperialisme berabad-abad lampau.

Oleh karena itu, pada dasarnya, apakah perdagangan global sekarang ini membawa perdamaian dan kemakmuran ataukah tidak akan sangat ditentukan oleh seberapa besar perdagangan memberikan manfaat kepada par partisipan baik negara maju maupun negara berkembang.

Bagaimana Isu Ekonomi-Perdagangan Disikapi?

Pertama, pentingnya kebijakan protektif bagi industri dalam negeri terutama bagi negara-negara Dunia Ketiga. Kedua, liberalisasi bertahap yang diberlakukan secara ketat, sebaliknya privatisasi dan liberalisasi yang dilakukan secara serampangan justru merusak industri dalam negeri. Ketiga, reformasi dalam tubuh WTO. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar