Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2011

EKSISTENSI SENTRA PENGRAJIN SEPATU/SANDAL RUMAHAN DI CIKARET KABUPATEN BOGOR


PENDAHULUAN
Krisis global yang terjadi di tahun 1998 memang berdampak sistemik pada negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Sebagai bangsa yang terbuka, Indonesia pun terkena imbas dari krisis yang berawal dari Amerika ini. Perekonomian dalam negeri Indonesia  sempat kacau, tapi akhirnya  kita dapat keluar dari resesi ini. Itulah yang dikatakan oleh para pemimpin negeri ini.
Dalam perkembangannya, selama proses pemulihan dari krisis, banyak perusahaan yang collaps, baik kecil  maupun besar, di tingkat nasional maupun lokal, semua mengambil ancang-ancang untuk menghadapi situasi terburuk yang mungkin terjadi.
Gelombang dahsyat menyapu sistem perekonomian Indonesia, tapi tidak sedikit pula yang banyak bertahan. Salah satunya adalah UMKM sepatu/sandal Cikaret pimpinan Bapak Atang yang sampai sekarang masih berproduksi di tengah gempuran persaingan global. Disinilah pentingya manajemen perusahaan dibutuhkan.
Perusahaan adalah suatu lembaga yang diorganisir dan dijalankan untuk menyediakan barang-barang untuk masyarakat dengan motif keuntungan. Sebagai suatu lembaga, perusahaan merupakan suatu wadah yang terorganisir yang betul-betuk didirikan dan diterima dalam tata kehidupan masyarakat. Jika dilihat dari besarannya, perusahaan dibagi menjadi perusahaan besar dan perusahaan kecil dan menengah (UMKM).
Fungsi manajemen yang pokok adalah merencanakan, mengorganisir, mengarahkan dan mengkoordinir dan mengawasi kegiatan-kegiatan perusahaan. Tidak ada perusahaan yang dapat hidup lama bila manajemennya tidak baik, dan beruntunglah perusahaan itu bila memiliki memanajemen kompeten.
Berkaitan dengan fungsi-fungsi manajemen di atas, koordinasi merupakan salah satu prinsip organisasi yang tidak bisa diabaikan. Orang sering mengatakan, koordinasi merupakan asas pertama dalam pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, dalam penulisan ini akan membahas lebih mendalam mengenai koordinasi yang dijalankan oleh Bapak Atang dalam mengelola perusahaan bengkel sepatu/sandal yang dimilikinya.

SEJARAH PERKEMBANGAN PENGRAJIN SANDAL/SEPATU
Cikaret adalah sebuah Desa/perkampungan yang terletak di belahan kota Bogor bagian Selatan, Sejak tahun 1970-an perkampungan ini terkenal dengan para pengrajin sepatu dan katsandal yang tergolong ke dalam Home Industri hingga sekarang.
Pesatnya perkembangan industri modern di dalam negeri dan membanjirnya produksi luar negeri terutama barang-barang dari Cina, Taiwan, Hongkong dan Singapura, membuat industri sepatu dan sandal rumahan harus banting tulang mempertahankan eksistensinya dalam usaha mempertahankan diri dari ketersaingan barang sejenis yang masuk ke pasaran lokal maupun nasional.
Sentra pengrajin sepatu/sandal rumahan (Home Industri) tersebar diberbagai wilayah di Desa Cikaret, seperti di Cikaret Lebak ( Gg. Madrasah, Gg. Makam, Cikaret Hijau, Gg. Kesadaran dll), Cikaret Tengah ( Gg. Pangumbahan, Gang Emad, Gg. Basir, Gg. Flamboyan dan sekitarnya) untuk wilayah Cikaret Timur (mulai dari Gg. Kosasih mulai dari RW 07, 08, 09, 10, 11 dan 12) jika dihitung dengan prosentase bahwa pengrajin sepatu/sandal rumahan yang ada di wilayah Cikaret  hampir 70% terdapat di wilayah Gg. Kosasih sebagaimana disebutkan di atas
Dan bahkan sebelum pasca krisis moneter di tempat ini (Gg. Kosasih) terdapat patung Sepatu berukuran besar yang dibuat oleh seorang Pengusaha keturunan Cina di depan ng pabrik penampungan sepatu/sandal, namun akhirnya patung sepatu ini hancur karena terjadi kebakaran besar yang menghanguskan sebagai barang-barang yang ada di gudang penampungan.    

OBJEK PENELITIAN/STUDI KASUS
Modal :  
Dalam rangka penelitian lapangan (observasi lokasi), beberapa waktu yang lalu kami menyambangi sebuah rumah pengrajin yang berada di wilayah RT. 02/RW. 07 Cikaret, dan bertemu dengan Bapak Atang, sang pemilik bengkel sandal dan mengadakan wawancara seputar usaha sandal yang mereka lakukan.
Bapak Atang, merupakan salah satu pengusaha/pengrajin sandal rumahan di wilayah Gg. Kosasih. Beliau menggeluti usaha sandal ini sejak tahun 1985 hingga sekarang. Sebelum membuka usaha sendiri Bapak Atang ini pernah bekerja sebagai tukang /pembuat Sandal pada orang lain selama puluhan tahun lamanya, sehingga pengalaman bekerja  pada orang lain itulah akhirnya Bapak Atang ini mencoba membuka bengkel sendiri dengan modal yang seadanya (minim). Namun lambat laun usaha  yang dilakukannya semakin berkembang pesat seiring banyaknya kepercayaan / permintaan (order) dari beberapa Toko sepatu/sandal, karena sandal produk Bapak Atang ini memiliki model yang bervariasi.
Jumlah Modal pertama yang dialokasikan  oleh Bapak Atang untuk usaha pembuatan Sandal ini pada tahun 1985 adalah sebesar Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) namun seiring dengan perkembangan tingkat kenaikan harga bahan baku sekarang diperlukan modal sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah).
Sistem dan prosedur dalam usaha bengkel Bapak Atang pada hakikatnya menggambarkan apa yang harus dikerjakan, dalam urutan-urutan yang begaimana, melalui bagian apa saja serta siapa yang menanganinya, dan kalau mungkin kapan tugas itu harus selesai.
Sistem Produksi :
Dalam pembuatan sepatu/sandal tidak serta merta dibuat lalu dijual. Berdasarkan pemaparan Bapak Atang, sebelum proses produksi berlangsung harus melalui beberapa tahapan terlebih dahulu, yakni:
-       Pihak bengkel membuat contoh model sepatu//sandal yang akan diproduksi
-       Setelah itu model dibawa ke “bos” untuk ditawarkan
-       Jika contoh model tidak disetujui, maka bengkel mengadakan perubahan pada model lalu menawarkannya lagi. Jika disetujui, maka “bos” menyediakan berbagai kebutuhan dalam memproduksi sepatu sandal
-       Bahan baku siap diolah
-       Produk yang sudah jadi dibawa ke “bos”  dan transaksi keuangan dilaksanakan

Sistem Kerja :
Untuk melihat kemampuan seorang manajer dalam memimpin dan melakukan koordinasi dilihat dari besar kecilnya jumlah bawahan yang ada dalam tanggungjawabnya, yang dikenal sebagai Rentang Manajemen. Koordinasi didefinisikan sebagai suatu proses penyatuan tujuan-tujuan perusahaan dan kegiatan pada tingkat satu-satuan yang terpisah dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
James D Thomson membagi 3 saling ketergantungan diantara satuan-satuan organisasi yaitu:
·         Ketergantungan yang menyatu (Pooled Interdependence) dimana setiap departemen dan fungsional tergantung pada pelaksanaan kerja 
·         Ketergantungan yang Berurutan (Sequential Interdependence) dimana pekerjaan dari tiap departemen atau fungsional tergantung dari penyelesaian pekerjaan departemen yang lain sebelum satuan lain dapat bekerja.
·         Ketergantungan Timbal Balik (Reciprocal Interdepedence) Merupakan hubungan memberi dan menerima antar suatu organisasi

Koordinasi merupakan usaha menisnkronkan serta menyatukan dari sekelompok orang. Suatu usaha yang terkoordinir ialah dimana kegiatan karyawan itu harmonis, terarah dan terintegrasikan menuju tujuan-tujuan bersama.
Begitu rumitnya proses yang dilalui dalam membuat sepatu/sandal yang sederhana sekalipun. Dalam hal ini koordinasi sangat penting, bahkan untuk usaha kecil pun.
Prinsip rentang manajemen berkaitan dengan jumlah bawahan yang dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang manajer.
Bawahan yang terlalu banyak itu kurang baik, demikianpula jumlah bawahan yang terlalu sedikit juga kurang baik. Ada dua alasan mengapapenentuan rencana yang baik dan tepat Rencana manajemen mempengaruhi penggunaan efisien dari manajer dan pelaksanaan kerja efektif dari bawahan mereka.
Adanya hubungan antara rentang manajemen dengan struktur organisasi, dimana semakin sempit rantang manajemen struktur organisasi berbentuk “tall” sedang rentang manajemen yang melebar akan membentuk struktur organisasi “flat” yang berarti tingkatan manajemen semakin sedikit.
Proses usaha pembuatan sepatu/sandal ini dikoordinir oleh Bapak Atang secara langsung,  dengan jumlah karyawan yang dimiliki 7 orang, sang manager membagi karyawan  ke dalam 4 (empat) kategori pekerjaan yaitu :
·         Bagian yang mengerjakan Muka sebanyak 2 Orang;
·         Bagian yang Mengerjakan Bawah sebanyak 2 Orang;
·         Bagian yang mengerjakan Bensol sebanyak 2 Orang, dan
·         Yang mengerjakan pengepakan hanya 1 Orang.
Dengan komposisi pembagian pegawai yang demikian, dapat menunjang dalam pemenuhan target produksi. Dengan adanya koordinasi yang efektif, maka:
·         Beban tiap bagian tidak terlalu berat karena adanya keseimbangan antar bagian.
·         Tiap bagian akan memperoleh informasi yang jelas dalam partisipasi pencapaian tujuan dan peranannya masing-masing
·         Schadule kerja saling terkait sehingga menjamin penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya.
Umumnya para pekerja di bengkel Bapak Atang ini bekerja normal selama 6 hari kerja dari jam 7.00 s/d jam 16. 00 dengan perhitungan penghasilan tergantung jumlah kodi yang dihasilkan, jika dihitung rata-rata pekerja sehari menghasilkan produksi sebanyak 4 (empat) kodi per hari dengan rata-rata penghasilan per kodi bervariasi mulai dari Rp. 17.500/kodi untuk tukang Muka, Rp. 20.000/kodi untuk tukang bawah dan Rp. 500,-/buah untuk tukang pengepakan. Jika dihitung besaran pendapatan per minggu rata-rata per karyawan dapat mengasilkan upah antara Rp. 75.000 s/d Rp. 300.000. Sistim pemberian upah/gaji dibayarkan setiap hari Sabtu sore setelah hasil produksi dipasarkan ke Toko yang sudah menjadi mitra  pemasaran. Jika pada bulan dan waktu–waktu tertentu sesuai dengan jumlah order/permintaan meningkat biasanya jam kerja ditambah sampai dengan malam hari, misalnya pada bulan Ramadhan menjelang hari raya karena memenuhi tuntutan pasar.
Merek Produksi :
Usaha pembuatan Sandal Bapak Atang ini memiliki merek Stevvano, Akiko, dan lain-lain. dengan model dan berbagai ukuran. selain itu, jika memesan secara langsung, para pembeli bisa membat merek sendiri sesuai keinginan.
Bahan Baku :
Umumnya bahan baku pembuatan Sandal ini menggunakan Kulit Imitasi yaitu : Ace, Spon, Sol Potong/Jadi, Latek, Lem, Kompor pengering, dan Kardus untuk membungkus barang yang sudah jadi.
Sarana dan Peralatan Produksi :
Proses pembuatan Sandal ini menggunakan peralatan yaitu : Mesin Jahit untuk menjahit kulit muka sandal bagian atas, Amleng, Kayu open, Tang, palu.
Sistem Pemasaran Hasil Produksi :
Produk hasil perajin Sandal seperti Bapak Atang ini dipasarkan atas dasar pesanan Toko di Pasar Anyar Bogor, jadi Bapak Atang ini hanya tinggal mengirimkan barang produksinya pada setiap akhir pekan (Sabtu) dengan sistim pembayaran dengan Cek  senilai jumlah barang pesanan, yang kemudian Cek ini dicairkan dalam bentuk Bahan Baku  dan uang hasil selisih barang yang dibutuhkan untuk produksi. Dari selisih uang tersebut sebagian dibayarkan untuk upah karyawan/buruh pada akhir pekan. Demikian  dan seterusnya.
Selain itu, barang-barang hasil produksi juga diibawa ke ITC Jakarta.
Manajemen Sumber Daya Manusia :
Jika dilihat dari tingkat pendidikan untuk usaha perbengkelan Sandal pada saat sekarang ini berbeda dengan tahun 1970-an.
Pada jaman dulu rata-rata karyawan/buruh tingkat pendidikannya hanya sampai kelas 3 SD, jarang sekali yang lulus SD, karena faktor kehidupan ekonomi yang sangat rendah, sehingga tidak sedikit anak usia sekolah menjadi pekerja di bengkel-bengkel Sandal. Namun berbeda dengan keadaan sekarang untuk karyawan/buruh di tempat perajin Sandal Bapak atang ini bahkan terdapat lulusan  SMEA/SLTA, untuk hal ini dikarenakan rendahnya kualitas untuk bersaing menjadi PNS atau Swasta yang bonafid.

PERMASALAHAN.
Membanjirnya barang-barang produksi pabrikan dari luar negeri di pasaran lokal dan dalam negeri tentu sangat berpengaruh pada eksistensi pengrajin dibidang usaha, karena hal ini akan menimbulkan dampak dari sisi negatif dan positif. Sisi negatifnya adalah para pengrajin akan banyak yang gulung tikar alias bangkrut jika pemerintah tidak mengambil kebijakan proteksi terhadap produk usaha dalam negeri dengan membiarkan masuknya barang dari luar negeri. Dan secara langsung hal lambat laun akan mematikan perekonomian Usaha Kecil Menengah (UKM) di beberapa daerah termasuk di sentra pengrajin Sandal seperti Bapak Atang ini. Selain hal tersebut tentunya dari segi kesehatan pada proses pembuatan sandal ini akan menimbulkan penyakit seperti Paru-Paru yang diakibatkan oleh bau spon dan Lem/Latek jika tidak pekerja tidak dilindungi dengan Masker.
Hal lain yang sangat terasa adalah tidak seimbangnya antara harga jual produsen dan keuntungan yang diperoleh dengan harga jual langsung ke konsumen. Jika diperhatikan, harga jual dari Bapak Atang ke “bos” adalah kecil keuntungannya, tapi setelah masuk ke etalase supermarket atau mall harganya jauh lebih mahal. Inilah yang membuat usaha bengkel tidak banyak berubah.
Sedangkan Dampak positif  yang ditimbulkan yaitu bahwa munculnya usaha Kecil menengah di bidang sepatu ini banyak menyerap tenaga kerja /buruh sehingga akan mengurangi tingkat pengangguran untuk wilayah Cikaret dan sekitarnya. Dampak positif lainnya adalah bahwa limbah dari bekas produksi sandal ini dijual kembali kepada orang yang menampung seharga Rp. 4.200/Kg untuk sisa guntingan Sol/bonet dan Ace bekas guntingan.
Dalam menjalankan usaha perbengkelan Sandal ini Bapak Atang merasakan tidak selalu berjalan mulus, permasalahan yang dihadapi selalu menghadang diantaranya :
1.     pada saat banyaknya permintaan pasar (order) masalah disiplin pegawai menjadi persoalan tersendiri, buruh tukang sering terlambat datang terutama pada saat hari Senin, saat permulaan bekerja.
2.     banyaknya barang-barang produksi luar negeri dari Taiwan, Cina, Hongkong dan singapura yang masuk ke pasaran Indonesia dengan harga yang relatif murah.
3.     Kurangnya penyuluhan dan bantuan dari instansi terkait untuk meningkatkan kualitas dan mutu barang produksi yang dihasilkan.


PENUTUP
Koordinasi sangat diperlukan dalam organisasi/perusahaan agar diperoleh kesatuan bertindak dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Apabila masing-masing bagian dalam organisasi bertindak sendiri-sendiri, tidak terkoordinir, niscaya tujuan perusahaan tak akan tercapai. Jadi setelah segala sesuatu itu direncanakan, diorganisir, diarahkan maka selanjutnya kegiatan-kegiatan perlu dikoordinir.
Dari uraian mengenai koordinasi dan rentang manajemen di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa:
-         Jalannya perusahaan yang baik dilihat dari koordiasi yang baik juga di perusahaan tersebut. Karena dengan koordinasi akan terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik dalam perusahaan sehingga membuat tujuan suatu perusahaan akan berjalan sesuai yang diinginkan dan berjalan dengan lancar.
-         Untuk melihat kemampuan seorang manajer dalam memimpin dan melakukan koordinasi dilihat dari besar kecilnya jumlah bawahan yang ada dalam tanggungjawabnya, yang dikenal sebagai Rentang Manajemen.
Rentang manajemen (jumlah bawahan yang dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang manajer) bisa dilihat dari besar atau kecilnya perusahaan tersebut. Perusahaan yang kecil biasanya menggunakan struktur organisasi yang lebih kecil. Alasannya agar setiap pekerja dapat bekerja dengan baik dan tidak saling mengandalkan satu kepada yang lain. Begitupun sebaliknya dengan perusahaan yang besar akan menggunakan struktur organisasi yang lebih besar agar jalannya produksi dapat berjalan cepat dan lancar.

Kamis, 18 November 2010

MASYARAKAT KAWASAN KONSERVASI KAMPUNG CITALAHAB-KAB. BOGOR TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK (Catatan Hasil Penelitian)

Moh. Muzayyin

Bogor, Indonesia
5 Septembr 2010.
Lokasi : Masyarakat Kp. Citalahab Desa Malasari Kec. Nanggeung Kab. Bogor
Objek : Masyarakat Kampung Konservasi TNGHS


Kampung Citalahab merupakan sebuah perkampungan kecil yang terletak di dalam kawasan TNGHS. Pada umumnya, masyarakat menggantungkan sumber nafkah dari hasil menjadi buruh pemetik teh di perkebunan Nirmala. Semua penduduk beragama Islam. Untuk anak usia sekolah para orang tua berusaha menyekolahkan anak-anaknya di SD dan di SMP Terbuka. Sangat jarang yang sampai ke tahap SMA, tapi ada pula yang sudah menjadi sarjana. Masyarakat yang berusia ≥20 tahun hanya berpendidikan SD, dan banyak pula yang berusia lebih dari itu tidak tamat SD, oleh karena itu ada saja anggota keluarga yang sudah berumur tidak bisa membaca huruf latin.
Para penduduk makan 2-3 kali sehari tergantung keinginan, jadi tidak ada paksaan dari kepala keluarga kepada anggota keluarganya untuk makan bersama, siapa yang lebih dulu lapar, dia boleh makan sesuai keinginan. Dalam hal sandang, lebih banyak masyarakat membeli baju baru pada saat menjelang hari raya Iedul Fitri. Minimal 1 kali dalam setahun. Ada penjual kredit yang berkeliling menjual pakaian. Para orang tua lebih cenderung mementingkan kebutuhan baju anak-anaknya. Dalam aktivias di dalam rumah, anggota keluarga memakai pakaian sederhana seadanya, kecuali untuk sekolah mempunyai seragam tersendiri,dan pula untuk bekerja di perkebunan, masyarakat memakai pakaian khusus yang serba tutup.
Pengobatan modern sudah tersedia di sekitar kampung ini walaupun jika ditempuh jalan kaki jaraknya cukup jauh. Namun apabila ada anggota keluarga yang sakit sambil diobati dengan obat-obatan kimia dari warung, sebagian ada yang meminta “air doa/jampi” ke sesepuh setempat. Dalam kondisi yang darurat dan penyakit yang parah, meskipun terletak di Kec. Nanggung Kab. Bogor, masyarakat cenderung mendatangi balai pengobatan yang ada di wilayah Kab. Sukabumi, seperti Kabandungan, Parakansalak, Parungkuda, dan Cibadak. Perlu diketahui bahwa di Cibadak terdapat RSUD Sekarwangi. Berdasarkan penuturan marasumber, terkadang ada ibu hamil yang sudah tidak bisa ditangani oleh “Mak Beurang” dibawa ke Sukabumi. Tapi karena jauhnya jarak, sehingga melahirkan di tengah jalan. Jadi alternatif memilih sarana pengobatan disesuaikan dengan situasi dan kondisi penyakit dan keuangan.
Selain menjadi buruh pemetik teh, banyak pula yang memelihara ayam kampung. Juga sebagian ada yang mempunyai kolam ikan. Oleh karena itu, rata-rata 1-2 kali/minggu anggota keluarga menikmati telur yang dibeli dari warung. Kalupun ikan asin merupakan lauk yang sudah biasa dikonsumsi. Keluarga menghidangkan daging atau masakan yang terbilang “istimewa” dalam menghadapi hari besar keagamaan. Juga apabila ada tamu/pengunjung/wisatawan yang datang mereka menghidangkan makanan yang lain dari biasanya untuk menyambut para tamu.
Rumah berbentuk panggung yang lantainya dari papan. Adapun “talupuh (anyaman bambu)” untuk ruang tertentu, seperti dipan dapur. Dinding bilik dan juga ada yang papan pula. Hanya ada 1 rumah yang sudah permanent. Dalam setiap rumah mayoritas mempunyai kamar yang dikosongkan. Malahan ada masyarakat yang meskipun rumahnya panggung namun menyediakan kamar mandi yang dikeramik dan bertoilet duduk.
Dari semua responden, tidak ada yang mempunyai tabungan di Bank, selain karena kesulitan ekonomi, pemukiman yang terpencil merupakan salah satu penyebab utamanya. Jika pun menabung hanya di taruh ke dalam wadah saja. Untuk mendapatkan informasi masyarakat mengandalkan radio dan televisi bagi yang punya. Itu pun dinyalakan dengan tujuan awal mencari hiburan musik atau tontonan. Sesuai dengan medan yang berbukit dan berbatu, beberapa kepala keluarga dapat mengendarai sepeda motor.
Dalam upaya meningkatkan pengetahuan agama, para ibu mengikuti pengajian setiap hari minggu pagi, dan para bapak para malam jum’at. Sedangkan anak-anak mengikuti pengajian setiap ba’da maghrib di mushola. Meskipun demikian, berdasarkan hasil pengamatan, kesadaran untuk melaksanakan ajaran agama tidak sepenuhnya dilaksanakan, hal ini terlihat dari sangat kurangnya kontrol sosial terhadap anggota masyarakat yang bermain dan bersinggungan dengan anjing.
“Perelek” dikeluarkan setiap bulannya sebanyak 2 liter beras dan sebagai substitusi Rp.10.000,- per KK.
Kampung Citalahab belum teraliri listrik PLN. Semenjak beberapa tahun lalu ada yang menyumbangkan turbin pembangkit listrik yang dirangkai di aliran sungai dengan kisaran watt yang berubah-ubah antara 1000-3000 watt. Sebuah turbin yang 1000 watt dialirkan ke enam rumah. Oleh karena itu peralatan elektronik sebagian warga rusak seperti tv dan magic jar. Oleh karena itu sekarang memakai cara lama yaitu di tungku.
Jika kampung daerah lain suka terlihat tempat pemandian dan mencuci umum di pinggiran aliran sungai, tapi hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di kampung Citalahab ini. Masyarakat sudah sangat jarang menggunakan air sungai karena sudah tercemar oleh kotoran limbah kerbau dari hulu. Oleh karena itu sebagai solusi dalam memenuhi kebutuhan MCK masyarakat menyelang dari mata air yang jaraknya sekitar 1 km.
Masyarakat Kampung Citalahab merupakan sudah bermukim dari dulu. Sebagai penduduk asli, meskipun berada dalam kawasan TNGHS tetapi pihak pengelola mengusir atau mengevakuasi penduduk. Di sini masyarakat tidak ada yang mempunyai sertifikat tanah, karena sudah barang tentu setiap jengkal tanah adalah termasuk taman nasional. Tetapi bangunan rumah tetap hak milik masyarakat. Oleh karena itu semenjak ditetapkannya perluasan kawasan TNGHS masyarakat di Citalahab tidak terkena dampak yang begitu besar.
Konflik pernah terjadi ketika ada warga yang menebang kayu dari TNGHS, setelah dipanggil dan diperingatkan secara tegas, sampai sekarang belum terulang kejadian serupa. Dengan adanya salah seorang warga yang menjadi pegawai honorer di TNGHS semakin memperkecil ruang konflik.
Antara pengelola dengan masyarakat terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Di satu sisi masyarakat tidak perlu pindah, dan disisi lainnya masyarakat menjadi pengontrol kawasan sekitar TNGHS dan menjadi kepanjangan tangan dari petugas jagawana. Masyarakat merasa bersyukur karena dengan dibukanya sebagian TNGHS manjadi kawasan ekowisata terdapat perubahan dalam bidang penghasilan, gaya hidup, wawasan keilmuan, dan lainnya. Melalui kegiatan yang dimotori oleh Yayasan Ekowisata Halimun dari tahun 1996-2002, masyarakat dibekali keterampilan dalam teknis guide, pengelolaan homestay, teknis menjamu tamu dan segala hal yang diperlukan masyarakat dalam ekowisata.
sampai saat ini belum pernah terjadi bencana alam seperti longsor maupun banjir, namun yang menjadi pengganggu adalah hama babi hutan yang merusak tanaman warga. Area persebaran hewan liar memang menyempit dengan adanya perkebunan teh di tengah kawasan TNGHS.
Kepadatan penduduk di kampung ini dibatasi sampai 30 KK. Hal ini mengingat apabila semakin banyaknya masyarakat yang bermukim, maka sedikit banyak akan berdampak negatif terhadap keseimbangan ekologis. Sampai sekarang bangunan rumah yang ada baru 17 buah. Bagi warga yang akan membuat bangunan baru harus atas izin dari pengelola TNGHS.
Berdasarkan apa yang dirasakan oleh masyarakat, tidak banyak terjadi perubahan yang berarti di kawasan taman nasional ini, hal ini karena didukung oleh masyarakat yang kooperatif terhadap program pengelolaan pelestarian hutan. Misalnya jika ada kegiatan yang mencurigakan di kawasan hutan, maka secara rahasia dilaporkan oleh masyarakat kepada petugas jagawana.
Kondisi musim yang tidak menentu tidak begitu berpengaruh. Pada umumnya mata pencaharian sebagai buruh pemetik teh, maka bertani dan bersawah merupakan alternatif lain yang digunakan sebagian kecil warga dalam mencari nafkah. Hal ini disebabkan karena terbatasnya akses masyarakat untuk membuka lahan dan sepanjang pukuk 06.00 – 14.00 WIB masyarakat berada di perkebunan.
Masyarakat menggunakan peralatan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Televisi, radio, maupun ponsel bukan merupakan hal baru. Petani menggunakan traktor yang disewa untuk membajak sawahnya. Karena hubungan masyarakat lokal dengan para wisatawan yang sering berkunjung mengubah pola pikir yang kini terlihat sedikit mengikuti gaya “ke-kota-an”. Pada waktu proses wawancara saya selaku surveyor memakai Bahasa Sunda halus untuk berkomunikasi. Berdasarkan pengakuan salah seorang responden saat diwawancara, lebih nyaman menggunakan Bahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Sunda. Selain itu, untuk beberapa orang tertentu sudah tidak asing lagi menggunakan gaya bahasa ilmiah.
Dari hasil wawancara, masyarakat terkadang kekurangan karena jumlah pegeluaran lebih besar dari pendapatan keluarga. Untuk beradaptasi dengan kondisi demikian masyarakat dari dulu berpola hidup sederhana. Ketimpangan atau perbedaan kepemilikan sumber daya tidak mencolok, terlihat dari tipe dan kebiasaan penduduk yang merasa bahwa semua masyarakat sama saja. Namun ada satu KK yang paling “sugih” dengan rumah permanen dan memiliki mobil pribadi.
Berkat pelatihan dan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat luar (wisatawan), selain menjadi buruh, masyarakat di sini berkesempatan menjadi Guide dan menjadikan rumah masing-masing menjadi homestay. Musim kunjungan wisatawan lokal antara bulan Juni sampai Januari, sedangkan wisatawan mancanegara dari bulan Juni sampang dengan Agustus. Tarif homestay antara Rp.70.000-Rp.100.000.-/hari.
Sebagaimana pada umumnya di perkampungan, masyarakat Citalahab masih mempertahankan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu antara yang satu dengan lain. Seperti dengan adanya dana sosial dalam bentuk “perelek” dan kerja bhakti pembangunan jalan setapak. Seperti yang dituturkan oleh para warga, kadang jika kondisi keuangan keluarga sedang menipis, maka meminjam ke keluarga dan tetangga yang lain adalah sesuatu yang biasa. Bahkan tidak sedikit yang menghutang keperluan sehari-hari ke warung sekitar.
Konsistensi masyarakat dalam perlindungan ekosistem di TNGHS memang sangat besar. Aturan yang ketat dari pemerintah dan dampak positif langsung yang dirasakan masyarakat membantu menjaga keberlangsungan kehidupan hayati di taman nasional terluas di Jawa ini. Kemiskinan dan penetrasi budaya kota yang materialis sudah mulai tumbuh seiring ramainya peminat ekowisata. Hal ini merupakan salah satu faktor kunci yang membentuk pola kehidupan masyarakat Citalahab dalam beradaptasi dengan alam, kebutuhan, dan perkembangan zaman.

Senin, 15 November 2010

Gambar Kehidupan Kampung "GURANDIL" di Kawasan TNGHS Wilayah I Lebak-Banten



STRATEGI ADAPTASI EKOLOGIS TERHADAP PENGENTASAN KEMISKINAN
DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK
WILAYAH I LEBAK-BANTEN

(Catatan Hasil Penelitian)

Moh. Muzayyin

Tanggal : 07 September 2010

Desa Ciladaeun adalah sebuah desa yang terletak di sekitas TNGHS. Dengan luas sekitar 734 Ha, kurang lebih 25%-nya masuk ke dalam taman nasional. Jumlah penduduk 2917 dengan 676 KK. Tingkat KK miskin cukup tinggi, yaitu 315 KK-hampir setengahnya (sumber: Kades)
Dengan berlokasi di Kampung Ciladaeun, 3 orang responden pada dasarnya mempunyai pengalaman menjalani kehidupan sehari-hari yang sama. Oleh karena itu, informasi-informasi yang didapat mempunyai kesamaan satu dengan lain.
Rata-rata penduduk makan 2-3 kali perhari. Adapun yang 2 kali adalah karena tergantung dengan kesibukan pekerjaan masing-masing. Dengan segala kesederhanaan lingkungan kampung, responden dapat menghidangkan telur 1-2x/minggu, tanpa dapat menyediakan daging maupun ikan. Adapun ikan hanya sebatas pada ikan asin yang harganya murah. Selain itu responden mengonsumsi sayuran sebagai pelengkap gizi keluarga.
Kondisi rumah seorang responden adalah rumah yang berlantai dan berdinding dari anyaman bambu. Dengan kondisi dalam rumah yang kurang tertata sehingga menambah kesan sangat memprihatinkan. Keluarga ini termasuk dalam KS 3. adapun kondisi kediaman dua responden lainnya adalah semi permanen berupa lantai semen dan dinding bata yang tingginya sekitar 40 cm. Sisanya adalah berdinding papan yang sudah tidak terlihat warna catnya. Dari ketiganya, berdasarkan perhitungan, luas ketiga rumah tersebut tidak memenuhi batas persyaratan, yaitu kurang dari 8 m2.
Masyarakat Kampung Ciladaeun sudah meskipun berada di pelosok tapi sudah menggunakan fasilitas kesehatan modern, seperti jika ada anggota keluarga yang sakit maka dibawa ke balai pengobatan atau diobati dengan obat-obatan kimia yang tersedia di warung terdekat. Ada sebagian warga yang selain menggunakan jasa dokter juga meracik ramuan sendiri yang bahannya di dapat dari talun dan hutan namun hanya sebagian kecil saja. berdasarkan hasil wawancara pun dikatakan bahwa cara pengobatan disesuaikan dengan situasi keuangan dan seberapa parah penyakit yang diderita.
Berkaitan dengan sandang atau pakaian yang dikenakan, responden menjawab kadang-kadang membeli baju, itupun jika mempunyai uang, kalau pun tidak, yang diusahakan terlebih dahulu adalah anak-anak.
berdasarkan
Semua kriteria responden adalah berpendidikan sampai SD bahkan ada yang tidak sampai tamat. Oleh karena itu dalam hal kemampuan baca tulis latin, responden sebagian ada yang sudah bisa tapi sebagian yang lain mengaku masih tersendat-sendat. Yang perlu ditekankan adalah bahwa dalam setiap keluarga atau rumah pasti ada kemungkinan terdapat orang tua yang tidak sekolah sehingga hal ini dapat membuat hasil penelitian menjadi sedikit kabur.
Dari ketiga keluarga yang diwawancarai, terlihat fakta bahwa anggota keluarga tidak ada yang meneruskan pendidikan sampai SMP, dan kebanyakan adalah tidak tamat SD. Anak yang berusia sampai 12 tahun hanya dicukupkan sampai sekolah dasar saja. sedangkan yang berusia 15 tahun ke atas sudah mulai bekerja membantu orang tua, diam di rumah, dan ada pula yang bekerja di kota besar namun bergerak pada bidang nonformal yang tidak tetap.
Pengajian dibagi ke dalam 3 jenis, yaitu pengajian kaum ibu, kaum bapak, dan anak-anak. Berkaitan dengan nilai-nilai religius, dari beberapa orang yang ditemui oleh penulis, masyarakat setempat melaksanakan ibadah tidak teratur, meskipun bulan Ramadhan tapi masih orang tua yang tidak berpuasa.
Dari ketiga keluarga, tidak ada yang mempunyai tabungan di bank, adapun mengenai celengan atau uang simpanan kecil para responden memberikan informasi yang tidak jelas. Karena berdasarkan pengakuan dari semua responden menyatakan kesusahan dalam mengelola keuangan karena pendapatan dari mata pencaharian pun terkadang tidak mencukupi kebutuhan.
Meskipun serba kekurangan, masyarakat kampung ini berusaha untuk mengeluarkan “perelek” sebesar 1 liter yang ditampung di Sekretaris Rukun Tetangga.
Fasilitas penerangan adalah dari hasil “nyolok” yang dialirkan ke beberapa rumah. Selain itu masyarakat menyelang air. Pun berkaitan dengan fasilitas air bersih, masyarakat menyelang. Selain itu adaptasi terhadap perkembangan teknologi alat-alat rumah tangga tidak merata. Televisi, radio adalah peralatan elektronik yang terlihat selama penelitian.
Pekerjaan pokok para warga kampung adalah buruh, bertani dan berkebun. Mayoritas penduduk di sini adalah menanam pisang dengan jenis yang berbeda-beda. Adapula yang terlihat lalu-lalang membawa kayu dan menjemur padi. Lahan padi memang terlihat di beberapa titik. Dengan semakin bertambahnya pengetahuan masyarakat dalam penggalian emas, pada kaum pria bekerja menjadi gurandil di penambangan liar yang ada di kawasan TNGHS.
Desa ini termasuk kawasan yang rawan dengan konflik vertikal antara masyarakat dengan pengelola TNGHS. Oleh karena itu informasi yang berkaitan dengan mata pencaharian sebagai “gurandil” sangat sedikit sekali. Bahkan terkesan menutupi bahwa ada praktik ilegal penggalian emas di TNGHS oleh masyarakat. Bahkan seorang KK hanya berujar bahwa jika sedang mencari emas tidak tahu apakah lokasi penggalian itu di dalam atau di luar TNGHS. Hal ini membuat “blur” karena kemungkinan responden tidak mengatakan yang sebenarnya.
Untuk rumah yang berada di dekat aliran sungai dalam beberapa bulan belakangan ini sudah terjadi banjir sebanyak dua kali.
Karena bertani pisang adalah kebanyakan yang digeluti penduduk, oleh karena itu berdasarkan penuturan responden merasa sedikit terpengaruh dengan berubahnya musim menjadi tidak menentu. Penduduk menanam padi 2x dalam setahun. Namun kebanyakan karena letak sawah berada di kaki bukit, maka pengairan didapat dari selokan biasa yang mengalir dari hutan.
Aplikasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari memang sudah cukup baik untuk ukuran kampung, ini terlihat dari adanya ponsel, televisi, rice cooker, penggilingan padi dan lainnya. Adapun berkaitan dengan perbedaan kepemilikan sumber daya memang terlihat adanya ketimpangan antara yang mampu dan kurang mampu. Ada penduduk yang hanya mengandalkan penghasilan dari bertani biasa dan adapula yang bertambang emas. Pada umumnya yang mempunyai pekerjaan “gurandil” memiliki penampilan fisik rumah yang lebih tertata apik dibanding dengan lainnya. Bahkan ada yang mempunyai bangunan permanen mewah. Selain itu ada pula yang menjadi TKI di luar negeri.
Dalam gaya hidup dan kebudayaan, para penduduk sebagian ada yang mulai mengikuti penampilan ke-kota-an, hal ini sangat terlihat jelas terutama pada orang pria-wanita yang usianya masih muda.
Kerjasama dan gotong royong masih ada dan terus dilaksanakan oleh para penduduk. Sikap senasib dan sepenanggungan ini terutama terlihat dari penuturan responden yang menyatakan masih seringnya terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.
Ada sebagain penduduk yang menggarap tanah bengkok untuk di kelola dengan sistem paro. Selain itu tanah bengkok juga ada yang dibangun perumahan penduduk. Tiap keluarga membayar uang sewa per tahun atau jika tidak dalam bentuk uang maka disubstitusi dengan beras atau padi.Kerjasama menjalin hubungan dengan pedagang sangat kuat.
Dalam sistem pengaturan hutan, pada umumnya penduduk mengetahui letak TNGHS. Area pertambangan emas liar tersebar, dan ini tentunya ilegal secara hukum. Kepala Desa pun membiarkan hal itu terjadi, karena pertimbangan bahwa jika mereka dihentikan akan bagaimana dengan pendapatan nafkahnya. Entah sengaja berbohong atau tidak, ada responden yang mengaku apakah galian emas yang dia ambil apakah termasuk ke dalam TNGHS atau tidak.